Kisah Nenek Penjual Sapu Lidi Di Kulon Progo yang Rela Menabung Bertahun-tahun Untuk Berkurban

0
500

Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Begitulah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan perjuangan Nenek Kaminem. Meski dalam segala keterbatasan, niat baik yang dibarengi dengan komitmen yang kuat memang akan selalu berbuah manis.

Mungkin bagi sebagian orang, berkurban tidak terlalu sulit. Namun bagi Kaminem hal tersebut membutuhkan perjuangan panjang dan tak mudah. Disisihkannya uang dua ribu, tiga ribu sebisanya. Belum lagi ia juga harus menyisihkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Sehari-harinya, Kaminem menekuni pembuatan sapu lidi. Dengan penglihatan yang sudah terbatas, dirinya mampu menguliti blarak (daun pohon kelapa) untuk dijadikan sapu lidi. Dulunya, Kaminem memiliki usaha bumbu dapur. Namun semakin bertambah usia, ia tak mampu lagi melakoni pekerjaan berat. Mata sebelah kanannya pun sudah diangkat lewat operasi karena infeksi glukoma yang dideritanya.

Setiap harinya Kaminem hanya sanggup membuat maksimal 5 biji sapu lidi. Harga sapu hanya berkisar 2.000-3.000 rupiah saja perbijinya. Itu pu belum tentu laku setiap harinya. Pembelinya kadang pedagang yang langsung mendatangi rumahnya atau hanya tetangga sekitar.

Nenek 10 cucu dan 3 buyut ini sekarang hanya tinggal seorang diri bersama anak keempatnya dengan kondisi perekonomian yang pas-pasan. Suaminya, Yatiman, telah berpulang terlebih dahulu 100 hari sebelum sempat menunaikan tekad sucinya bersama Kaminem untuk berkurban.

Usaha kaminem untuk mewujudkan cita-citanya juga tak berjalan mulus. Beberapa kali dirinya hampir mengorbankan uang tabungan kurbannya untuk keperluan yang lebih mendesak. Untunglah Kaminem memiliki tekad yang kuat sehingga ia bisa berkomitmen dan mengumpulkan kembali rupiah demi rupiah. Hingga akhirnya setelah selama tujuh tahun ia menabung, akhirnya itikad baiknya bisa terlaksana.

Kabar perjuangan Kaminem dalam mengumpulkan uang untuk berkurban pun mengagetkan banyak orang, termasuk pihak panitia kurban dan takmir Masjid At Taubat Nepi Kranggan. Pasalnya Kaminem selama ini terdaftar sebagai warga kurang mampu dan masuk dalam penerima zakat dan bantuan sosial.

Ketua Panitia Kurban Masjid At Taubat, Wachid Purwosubianto mengaku sangat kaget saat pertama kali Kaminem menguatarakan niatnya untuk ikut bergabung dalam ibadah kurban tahun ini. bahkan dirinya sempat menanyakan kemampuan finansial Mbah Kaminem, yang oleh beliau dijawab dengan mantap bahwa uang telah disiapkan. Selang beberapa pekan, Kaminem datang kembali membawa sebungkus kresek hitam berisi uang tabungannya.

Komitmen Kaminem untuk melaksanakan ibadah kurban layak jadi teladan bagi warga lainnya untuk terdorong berbuat kebaikan serupa. Keterbatasan kemampuan tidak menghalangi seseorang untuk tetap istiqomah dalam beribadah. Asalkan niat dan tekad yang kuat, maka jalan pun akan selalu ada.

Source: Tribunjogja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here