Follow � JOGJA
Login
Lupa Password ?
Wisata
Wisata > Wisata Kota > Kawasan Bintaran

Kawasan Bintaran

Lokasi: Bintaran, Mergangsan, Yogyakarta
"Little Netherland di Tengah Kota Yogyakarta"

Kawasan Bintaran

Berwisata mengunjungi tempat-tempat yang berada jauh di lain benua selalu membangkitkan kegairahan untuk mendapatkan pengalaman yang  berbeda dari beberapa hal, bahasa, budaya, kuliner dan bangunan (arsitektural). Jarak tempuh yang jauh serta perbedaan iklim menjadi hal utama untuk disikapi dengan kelonggaran waktu dan finansial. Apabila keinginan ada namun kondisi finasial dan waktu tidak mendukung. Apa yang bisa kita lakukan?

Tentu kita bisa melakukannya dengan lebih mudah. Bagaimana caranya? Kita tentu tahu bahwa manusia adalah makhluk yang dianugerahi jiwa eksplorasi berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam sejarah sebuah bangsa perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lainnya adalah hal wajar. Mereka membuat komunitas disuatu kawasan dengan segala pernak perniknya dibuat mirip dengan tanah kelahiran untuk mengobati rasa rindu yang dalam. Dengan mengunjungi kawasan tersebut kita tidak perlu berjalan dengan jarak tempuh jauh dan finansial yang banyak sudah bisa membawa ketempat tersebut.

Kota Yogyakarta dalam sejarahnya termasuk kota yang memiliki posisi penting bagi Pemerintahan Belanda di masa-masa kolonialisme. Peninggalan gedung-gedung Belanda terdapat di beberapa kawasan di kota Yogyakarta, salah satunya Kawasan Bintaran. Bangunan besar, jalanan lengang serta tata kota yang rapi membuat Kawasan Bintaran menarik untuk dijadikan sarana City Tour di Kota Yogyakarta. Setali tiga uang dengan Kotabaru, Kawasan Bintaran adalah hunian alternatif bagi expatriat Belanda yang menetap di wliayah Yogyakarta.  Luas wilayah dan perkembangannya tidak sepesat Kotabaru dikarenakan Kawasan Bintaran ini masih dekat dengan Loji Kecil sehingga segala fasilitasnya masih bisa diakses dengan mudah.  Sejarah awal perkembangan kawasan ini, Bintaran sebelumnya dikenal sebagai tempat kediaman Bendara Pangeran Haryo Bintoro  atau Ndalem Mandara Giri, salah satu kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pembangunan di kawasan ini tidak bisa dilepaskan dari situasi awal 1920-an ketika terjadi booming industri gula di Yogyakarta. Kawasan Bintaran diperkirakan dibangun pada awal tahun 1930-an dengan ditandainya pembangunan rumah, fasilitas gereja dan rumah tahanan.  Umumnya, orang Belanda yang bermukim di Bintaran adalah yang bekerja sebagai opsir dan pegawai pabrik gula.

Bangunan dengan ciri khas daun pintu dan jendela yang besar serta lebar menjadi pemandangan yang sering kita temui di kawasan ini. Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Soedirman, bangunan yang berdiri tahun 1890 dimanfaatkan sebagai kediaman pejabat keuangan puro Paku alam VII bernama Wijnschenk. Bangunan tersebut juga sempat menjadi rumah dinas Jendral Soedirman, kemudian kediaman Kompi Tukul setelah kemerdekaan. Bangunan Museum Biologi yang berada di Jalan Sultan Agung dahulu dimanfaatkan sebagai tempat tinggal pengawas militer daerah Pakualaman. Kediaman seorang warga Belanda bernama Henry Paul Sagers, kini dimanfaatkan sebagai kantor Komando Pemadam Kebakaran. Bangunan bersejarah lain adalah penjara Belanda yang kini digunakan sebagai Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan.

Pada periode kolonialisme kawasan Bintaran ini merupakan pemukiman seperti halnya Kota Baru yang memiliki fasilitas keagamaan yaitu gereja.  Minggu 8 April 1934 gereja ini resmi dibuka bersamaan misa ekaristi untuk pertama kalinya yang dipenuhi 2000 umat Katolik pribumi. Gereja Santo Yosep Bintaran ini diresmikan oleh Mgr. A. Th van Hoof SJ, Vikaris Apostolik didampingi oleh RM Van Kalken SJ, Kepala Misi Jesuit di Jawa dan RM G. Riestra SJ, Pastor Kepala di Yogyakarta.

Bangunan lain yang memberika nuansa berbeda bisa kita lihat di Ndalem Mandara Giri, rancang bangun dari gedung tersebut merupakan perpaduan Jawa dan Belanda. Pendopo di bagian depan mewakili dari  unsur Jawa yang bahan bangunannya di datangkan dari Demak pada tahun 1908.  Ciri Jawa terlihat dari adanya pendopo yang bahan-bahannya khusus didatangkan dari Demak pada tahun 1908. Sementara, ciri bangunan Belanda terlihat dari ruangan yang lebar dan berdinding tinggi serta jendela khas Belanda yang besar dan memiliki dua daun.Kini, bangunan yang bisa ditemui dengan di pertigaan pertama setelah berbelok ke kiri dari Jalan Sultan Agung ini dimanfaatkan sebagai kantor Karta Pustaka, sebuah lembaga Indonesia Belanda. (foto dan teks aan ardian/www.kotajogja.com)





Foto-foto Kawasan Bintaran