Follow � JOGJA
Login
Lupa Password ?
Berita Jogja

Berita Utama Kotajogja


Tragedi Sampang


Tragedi Sampang

SAMPANG Madura 26 Agustus 2012 bergolak dan bersimbah darah.  Penganut  Syiah bentrok dengan warga masyarakat yang tidak setuju dengan jamaah tersebut. Korban jiwa pun jatuh. Kerugian material juga tak terhindarkan, sebab beberapa rumah dibakar massa. Ini merupakan tragedi di bulan penuh maaf, dan peningkatan berbuat kebaikan setelah sebulan menjalankan puasa Ramadan.

Padahal, salah satu sifat utama dari agama adalah menghargai adanya keragaman. Keragaman yang sering diidentikkan dengan bermacam-macam kelompok, pikiran, golongan dan sekte merupakan sunatullah yang tidak bisa ditolak kehadirannya. Sunatullah ini merupakan bukti otentik bahwa Tuhan tidak menghendaki adanya keseragaman dan ketunggalan dalam diri umat manusia.

Dengan adanya peristiwa yang mengenaskan, kita kemudian bertanya ada apa sebenarnya dengan umat beragama kita ? Kenapa demikian ringan mempergunakan kekerasan dan memaksa kelompok lain yang berbeda pandangan, pikiran dan keyakinan? Bukankah Tuhan telah memberikan gambar yang demikian terang, bahwa janganlah kita saling membunuh satu sama lain, jika ada masalah hendaklah saling berkonsultasi, berembuk dan debat dengan kepala dingin ?

Tetapi mengapa semua ajaran dari Tuhan di atas seakan-akan hilang lenyap begitu saja ketika sebagian dari kita berhadapan dengan keragaman pandangan dan keyakinan yang telah Tuhan anugerahkan pada kita ? Apakah kita telah kehilangan nilai-nilai yang diajarkan Tuhan, atau kita tengah berusaha menghilangkan salah satu dari sekian banyak ajaran kitab suci ?

Dalam Syiah memang terdapat perbedaan dengan kaum muslim Indonesia pada umumnya. Tetapi apa salahnya ? Syiah tidak hanya terdapat di Indonesia tetapi  di Iran Persia dan beberapa Negara di muka bumi ini juga terdapat umat yang menganut Syiah ? Dan jika persoalannya karena soal pandangan keislaman, bukankah dalam Islam yang non Syiah juga banyak pandangan yang beragam? Bahkan dalam Islam mainstream seperti Muhammadiyah dan NU saja banyak pandangan tentang keislaman.  Apakah semua harus menjadi satu, monolitik, sehingga jika terdapat pandangan dan pikiran yang berbeda harus dimusnahkan?

Tetapi apakah sebabnya itu ? Jika persoalan tragedi Sampang Madura karena faktor ekonomi dan politik, maka penyelesaiannya harus diletakkan dalam politik, ekonomi dan ranah hukum kenegaraan, bukan dalam masalah teologis. Kita jangan mencoba-coba menyelesaikan masalah ekonomi dan politik dengan pendekatan teologis sebab tidak akan menemukan titik temu. Demikian pula ketika masalahnya adalah teologis kita akan lebih baik menyelesaikan dengan pendekatan teologis bukan pendekatan ekonomi politik.

Sayangnya, yang sering terjadi adalah persoalan teologis diselesaikan dengan pendekatan ekonomi politik, bukan teologis. Sementara persoalan ekonomi politik pendekatannya teologis, akhirnya menghasilkan penyelesaian yang sifatnya tidak relevan. Seharusnya jika masalahnya adalah ekonomi dan politik maka penyelesaiannya adalah ekonomi dan politik. Jika masalahnya ketidakadilan hukum maka penyelesaiannya adalah penegakan hukum. Di sinilah diperlukan kejelian aparat keamanan dalam menyelesaikan kasus-kasus kekerasan atas kelompok umat yang ada di Indonesia.

Jika aparat keamanan salah dalam melakukan pendekatan penyelesaian maka hal yang akan terus terjadi adalah kekerasan-kekerasan yang akan terulang di lain kesempatan. Sebab terdapat ketidakpuasan di antara warga Negara atas pendekatan yang dilakukan pemerintahan. Oleh sebab itu, ketegasan dalam menegakkan hukum merupakan salah satu kunci dalam menyelesaikan kasus kekerasan yang melibatkan beberapa pihak di nusantara.

Dengan adanya tragedi di Sampang Madura yang menimpa jamaah Syiah, sebenarnya kita dapat membaca bahwa ada problem serius dalam tubuh umat beragama kita yakni keberagaman yang dianut selama ini jangan-jangan masih dalam tahap permulaan. Artinya, keberagaman ini belum sampai pada tahap dewasa, sehingga gampang tersulut oleh adanya provokasi, hasutan dan sejenisnya. Gampang bertindak negatif atas kelompok lain yang berbeda pandangan sekalipun kitab suci melarang melakukan pembunuhan atas mereka yang beriman kepada Tuhan.

Tragedi Sampang Madura juga memberikan gambar yang cukup terang bahwa pemerintah masih memiliki kewajiban dan tugas berat untuk mendidik warganya agar tidak bermain hakim sendiri, bertindak brutal dan semena-mena terhadap kelompok lain. Pemerintah tidak boleh melakukan pembiaran atas warga Negara yang menjadi korban dan membiarkan warga masyarakat yang dominan melakukan tindak kekerasan atas warga lainnya atas nama Tuhan sekalipun. (Dr Zuly Qodir, Sosiolog UMY dan Deputy Directur Jusuf Kalla School of Government UMY/Analisis SKH Kedaulatan Rakyat edisi Rabu 29 Agustus 2012)







Profile Tokoh
Ngatinah - Legenda Gudeg Mercon Jogjakarta

Di usianya yang menginjak 60 tahun, Ngatinah tetap semangat dalam menjalankan bisnisnya yang dia rintis sejak tahun 1992. Wanita kelahiran Boyolali ini layak kita berikan… Selengkapnya