Follow � JOGJA
Login
Lupa Password ?
Berita Jogja

Berita Utama Kotajogja


Pengangguran di Sleman Tertinggi di DIY


Pengangguran di Sleman Tertinggi di DIY

Upaya penanggulangan kemiskinan di Sleman belum menunjukkan kemajuan berarti. Ini dapat dilihat dari pendataan angka kemiskinan. Pada tahun 2011 terdapat 50.603 KK miskin dari 305.376 KK di Kabupaten Sleman atau 16,57 persen. Sedangkan pada tahun 2012 ini menurun menjadi 15,92 persen dari 312.089 KK yang ada di Sleman.

"Salah satu tantangan yang ada adalah masih tingginya angka pengangguran di Sleman. Meskipun jumlah pengangguran di Sleman menurun dari tahun lalu, yaitu dari 58.295 menjadi 39.921 namun masih merupakan jumlah yang tertinggi di DIY," kata Staf Ahli Kemasyarakatan dan SDM Kabupaten Sleman Dwi Supriyanto.

Menurutnya, dengan melihat kondisi ini masih harus bekerja keras mencarikan solusi, agar angkatan bekerja yang belum bekerja tersebut dapat memiliki pekerjaan yang diinginkan.

Hingga Juni 2012, terdapat 782.377 penduduk dengan usia kerja dan jumlah angkatan kerja sebanyak 524.326 orang. Sedangkan jumlah pengangguran di Sleman yaitu dari 39.921 orang dengan tingkat pendidikan SD sebanyak 15 persen SMP sebanyak 21 persen, SMA/SMK 36 persen dan 8,5 persen lulusan diploma dan 8 persen lulusan S1 sedangkan sisanya 9,8 persen tidak menyelesaikan pendidikan dasar.

"Jika kita cermati maka sebenarnya penanganan kemiskinan yang dilaksanakan pada masing-masing instansi pemerintah masih belum maksimal, belum seluruhnya terintegrasi dan terpadu. Masih terdapat sekat-sekat penggarapan yang melihatnya dari output sektoral, padahal masalah kemiskinan bukan masalah keterbatasan akses pada satu sektor saja," kata dia.

Dia mengatakan, kemiskinan adalah ketidakberdayaan masyarakat yang diakibatkan ketidakkemampuannya dalam mengakses berbagai hal dan sifatnya kompleks. "Tidak terpadunya penanganan kemiskinan ini menyebabkan tujuan, target dan sasaran penanganan kemiskinan ini juga tidak tercapai. Semua pihak yang memiliki tugas dan kewenangan mengelola program-program kemiskinan, melakukan program pemberdayaan masyarakat untuk tetap menjaga komitmen untuk senantiasa mengedepankan keterpaduan dan sinergi baik kegiatan maupun sasaran," kata dia.

Ia menyadari, penanganan kemiskinan melalui pemberian dana bergulir ini melibatkan banyak komponen masyarakat sehingga juga banyak masalah dan tantangan yang dihadapi. Berbagai masalah tersebut saya harapkan tidak menyurutkan upaya kita untuk tetap berpegang pada aturan yang berlaku.

Hal ini dikarenakan aturan tersebut dibuat sebagai pedoman pelaksanaan di lapangan agar terhindar dari segala bentuk penyimpangan-penyimpangan. Sosialisasi, pelatihan-pelatihan manajemen dan pembinaan lainnya harus terus dilakukan agar masyarakat juga semakin jelas dengan tujuan dan sasaran pemberdayaan masyarakat ini.

Menurutnya, perlu ada terobosan dalam penanganan kemiskinan ini adalah keterlibatan stakeholder didalam penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Sleman. Pelaksanaan program-program penanganan kemiskinan masih terkonsentrasi pada kegiatan yang bersumber pada dana-dana APBD, APBD Provinsi dan APBN. Keterlibatan swasta dan masyarakat belum optimal.

"Pemanfaatan dana CSR dari perusahaan swasta, pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dan kuliah kerja nyata dari perguruan tinggi perlu disinergikan untuk ikut membantu penanganan kemiskinan. Terlebih jika dilihat dari permasalahan yang ada, kita memang belum bisa memanfaatkan tenaga-tenaga terlatih, para ahli di bidangnya dengan baik," terang dia.

Melalui keterpaduan, sinergi dan kerjasama tanggungjawab yang besar untuk menanggulangi kemiskinan, menurutnya target meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sleman, berdaya saing dan berkeadilan gender pada tahun 2015 akan dapat terealisasikan.(tribunjogja.com)







Profile Tokoh
Ngatinah - Legenda Gudeg Mercon Jogjakarta

Di usianya yang menginjak 60 tahun, Ngatinah tetap semangat dalam menjalankan bisnisnya yang dia rintis sejak tahun 1992. Wanita kelahiran Boyolali ini layak kita berikan… Selengkapnya