Follow � JOGJA
Login
Lupa Password ?
Berita Jogja

Berita Utama Kotajogja


Bocah Asal Gunungkidul Dilarang Sekolah TK Gara gara HIV


Bocah Asal Gunungkidul Dilarang Sekolah TK Gara gara HIV

"Mak, kapan aku bisa sekolah?," pertanyaan itu berkali-kali ke luar dari bibir mungil seorang anak berusia lima tahun asal Patuk, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebut saja namanya Bagus. Mimpi bocah itu menyandang ransel, pergi ke sekolah bersama teman-temannya di Taman Kanak-kanak Desa Ngoro-oro, terhalang tembok tinggi. Di usia yang sangat belia, ia harus mengalami diskriminasi karena virus yang bersarang di tubuhnya: HIV.

Virus itu terdeteksi tahun 2008 lalu. Kala itu Bagus yang berusia 11 bulan dibawa ke Rumah Sakit Bethesda, gara-gara sakit panas. Sang ibu yang mengantarnya terkejut bukan kepalang saat dokter menyatakan putranya itu mengidap HIV. Demikian juga dengan kedua orangtuanya yang ternyata positif.

Namun, apa mau dikata, keluarga itu akhirnya bisa menerima kondisinya dan berusaha hidup normal. Masyarakat sekitar yang tahu bahwa mereka mengidap HIV memaklumi. Nyaris tak ada masalah sebelumnya, termasuk saat Bagus sekolah di PAUD (pendidikan anak usia dini). Namun, awal bulan ini, Bagus yang sudah didaftarkan di TK Ngoro-oro ditolak masuk. Gara-gara sebuah pesan pendek (SMS).

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Menular, Pemerintah Gunungkidul, Dewi Irawati menjelaskan, SMS tersebut datang dari nomor tak dikenal, yang tidak mencantumkan nama.

"Dalam SMS itu menyatakan, orangtua siswa tidak akan menyekolahkan anaknya di TK itu, jika siswa yang positif HIV diterima dan masuk TK tersebut," kata dia kepada VIVAnews, Kamis 19 Juli 2012.

Dewi membantah isi SMS tersebut sebagai sikap seluruh orangtua siswa. Bahwa mereka berniat mengeluarkan anaknya dari sekolah, jika Bagus bersekolah di TK itu.

Untuk memberi penjelasan pada warga, Dewi mengatakan, pihaknya pada Rabu pekan depan akan melakukan pertemuan dengan orangtua siswa, warga, dan pengurus desa setempat untuk memberikan sosialisasi terkait HIV. "Harapan kami masyarakat tahu benar tentang HIV dan mau menerima anak dan keluarganya di tengah masyarakat," kata dia.

Kepada masyarakat awam akan dijelaskan bahwa penularan HIV tak semudah dibayangkan. Medianya adalah hubungan seksual, jarum suntik, dan transfusi darah. HIV tak akan menular hanya karena bersalaman, bermain bersama, atau batuk dan flu.

Dewi menambahkan, kepada Bagus dan kedua orangtuanya, Pemkab Gunungkidul juga membantu dalam hal pengobatan secara gratis. "Memang HIV AIDS tidak bisa disembuhkan namun dengan pengobatan rutin akan memperlambat perkembangan virus tersebut," papar dia.

Sultan pun bertitah

Kabar ditolaknya Bagus sampai ke telinga Raja Keraton Yogyakarta. Sultan Hamengkubuwono X menyayangkan diskriminasi tersebut. Tak sekedar prihatin, Sultan memberi perintah secara langsung kepada Bupati Gunungkidul, Badingah untuk bertindak.

"Siswa itu jangan dinafikkan," kata Sultan kepada Bupati Gunungkidul saat keduanya menghadiri HUT Kabupaten Bantul ke 181, Kamis 19 Juli 2012.

Perintah itu disampaikan di depan banyak orang. "Jangan seperti itu. Apapun, anak itu punya masa depan," jelas Sultan.

Bupati Gunungkidul Badingah yang mendapat perintah langsung dari Sultan menyatakan siap untuk memfasilitasi warganya yang mengalami diskriminasi itu. "Njih (baik) Ngarso Dalem. Saya akan tindak lanjuti," kata dia di hadapan Sultan.(vivanews.com)







Profile Tokoh
Ngatinah - Legenda Gudeg Mercon Jogjakarta

Di usianya yang menginjak 60 tahun, Ngatinah tetap semangat dalam menjalankan bisnisnya yang dia rintis sejak tahun 1992. Wanita kelahiran Boyolali ini layak kita berikan… Selengkapnya